Sebuah catatan fikiran sekedar untuk mengingatkan

Latest

Nasi Kebuli – Cap Jempol – Umi Ipah

Hari ini kedatangan Umi Ipah. Kali kedua beliau mengirimkan bumbu “Nasi Kebuli” untuk kami kemas ke dalam sachet dan masuk box serta segel plastik shrink. Salut pada semangat dan keyakinan-nya, walau sudah sepuh beliau meracik sendiri campuran rempah lokal dan rempah yang didatangkan langsung dari timur tengah, “Ini namanya bumbu Nasi Kebuli Super”, ujarnya saat menjelaskan beberapa bahan yang didatangkan dari luar Indonesia tersebut.

Baik Umi, kami bantu kemas & packing. Semoga usaha bumbu-nya tambah maju. Salut juga kepada anak-anaknya yang terus mendukung keinginan Umi untuk membuat bumbu ini.

Nasi Kebuli

Terima Kasih PT. Lamba Rasandai Utama

image

PT. LRU dulu dikenal sebagai perusahaan yang bergerak dalam perdagangan alat rumah tangga. Tapi kini, melalui merek Radix asal Malaysia, PT. LRU mulai mengimpor-repacking-memasarkan produk kopi yang telah terkenal khasiatnya sebagai kopi herbal.
Dalam mengemas kopi-nya, PT. LRU bekerjasama dengan http://www.balekemas.wordpress.com dan Agroinstan yang berpengalaman dalam perizinan (P-IRT & Halal), registrasi barcode, penyediaan kemasan sachet dan karton serta proses produksi. Tahap pertama, lebih dari 72.000 sachet berhasil diselesaikan sampai packing dalam waktu 1 minggu.
Perjalanan masih panjang, kami selalu berusaha membuat customer kami puas.

Komponen Design Kemasan (9) Nama & Alamat Produsen

Sebagai bentuk pertanggung jawaban, produsen wajib mencantumkan nama produsen pada kemasan produk. Ini sekaligus sebagai jaminan dan panduan bagi customer, siapa yang harus dihubungi berkaitan dengan produk.

Aturan lainnya seperti ilustrasi pada packaging diatur lebih dalam, misalnya produk sari buah yang terbuat bukan dari buah segar tidak boleh memberikan ilustrasi foto asli buah, tetapi harus ilustrasi karikatur atau gambar kartun.

Masih banyak yang akan kita bahas di blog ini, stay tune dan mohon masukkan artikel selanjutnya mengenai apa…

Komponen Design Kemasan (8) Keterangan Halal

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam tentunya menginginkan sebuah kenyamanan dalam mengkonsumsi produk pangan yang beredar di pasaran. Oleh karena itu, jika produk pangan ingin memiliki pasar yang luas, sertifikasi halal mutlak diperlukan. Sebenarnya produk pangan dengan izin edar P-IRT atau BPOM MD sudah sangat memadai dan layak dipasarkan secara luas. Namun pasar Indonesia sangat memperhatikan adanya legalitas halal pada produk-produknya. Tidak heran jika sempat terjadi beberapa kasus yang menimpa restoran, toko roti atau bahkan produk retail yang belum memiliki sertifikat halal menjadi buah bibir pembicaraan di masyarakat. Ketiadaan sertifikat halal menjadi preseden buruk bagi produsen, sehingga akan secara langsung mempengaruhi jumlah penjualan produk tersebut.

Sertifikat halal dikeluarkan oleh LPPOM MUI baik itu pusat maupun daerah. Diperlukan audit untuk memastikan bahan baku, proses produksi dan pengemasan dilakukan sesuai kaidah Halal. Untuk produsen yang hanya membeli bahan baku halal dan seluruh produk yang dihasilkan halal, maka sistem jaminan halal akan relatif mudah, karena tidak perlu ada pemisahan bahan baku dan peralatan antara bahan/alat yang digunakan untuk produk halal dengan tidak halal.

Hasil audit yang telah dibawa ke sidang fatwa akan diberikan sertifikasi Halal jika sesuai dengan ketentungan yang telah ditentapkan. Sertifikat halal berlaku selama  tahun, oleh karena itu setiap produsen harus terus memperpanjang sertifikat hala jika ingin mencantumkan logo halal pada packaging. Untuk produk impor, seertifikat halal dapat dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi halal negara setempat, namun lembaga sertifikasi halal tersebut harus diakui oleh LPPOM MUI. Diantara lembaga sertifikasi halal yang telah diakui LPPOM MUI adalah sebagai berikut :

lembaga sertifikasi halal

Tidak diperkenankan mencantumkan logo halal pada kemasan, jika belum memiliki sertifikat halal

Komponen Design Kemasan (7) Izin Edar

Setiap produk yang dipasarkan secara umum wajib mengantongi sejumlah izin sesuai peraturan pemerintah atau instansi terkait. Produk pangan hanya bisa dipasarkan secara luas kepada masyarakat jika minimal mengantongi izin edar dari dinas kesehatan setempat. Izin edar skala terendah yang dikeluarkan dinas kesehatan adalah P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Untuk produk pangan yang berskala Nasional dan Industri Besar atau produk-produk yang tidak dapat dicakup dengan P-IRT, dapat menggunakan izin MD. Produk pangan impor yang dipasarkan di Indonesia harus mengantongi izin ML.

bpom md bpom ml

Komponen Design Kemasan (6) Kode Produksi

Dalam setiap kemasan, Kode Produksi selalu didampingkan dengan Tanggal Kadaluwarsa. Selain untuk memudahkan dalam proses pencetakan kedua kode tersebut, juga untuk memudahkan customer membacanya, karena kedua kode tersebut sangat berkaitan. Jika tanggal kadaluwarsa berkaitan dengan umur produk, maka kode produksi dapat mewakili serangkaian data yang dimiliki oleh produsen yang pada umumnya terkait dengan :

  1. Waktu produksi : meliputi tanggal dan waktu (jam) produk tersebut diproses
  2. Nomor Batch : nomor urut racikan/formulasi produk
  3. Line yang digunakan : untuk industri besar yang mempunyai beberapa line produksi, dapat juga mewakili lini produksi mana yang digunakan
  4. Bahan yang digunakan : asal usul bahan yang digunakan
Kode Produksi

Kode Produksi

Kode produksi memudahkan produsen melacak produk jika terjadi kesalahan produk, kasus keracunan pada produk pangan, sehingga pabrikan bisa menelusuri akar permasalahan yang terjadi dan jika perlu melakukan recall (penarikan) produk yang mempunyai kode produksi yang sama. Evaluasipun dapat dilakukan pada supplier, kondisi mesin, operator dll.

Komponen Design Kemasan (5) Berat Bersih

Konsumen semakin kritis, oleh karena itu produsen dituntut untuk cermat dan tepat dalam menentukan dan mencantumkan keterangan berat/volume produk yang berada dalam kemasan. Di Indonesia mungkin saja baru beberapa kasus terjadi tuntutan customer akibat ketidaksesuaian antara keterangan berat produk pada kemasan dengan berat produk sebenarnya, namun bukan berarti produsen bisa seenaknya.

Menurut peraturan, keterangan berat/volume produk untuk pasar Indonesia harus mencantumkan tulisan ‘berat bersih’ atau ‘isi bersih’ bukan ‘netto’ yang menggambarkan berat/volume bersih produk yang berada di dalam kemasan. Untuk IKM yang proses penimbangan masih manual, menentukan berat bersih adalah berat bruto (berat kotor) dikurangi berat kemasan kosong.¬†

Tahapan penimbangan adalah sebagai berikut :

  1. Nyalakan timbangan sampai stabil di angka nol
  2. Letakkan kemasan pada timbangan, kemudian tera (buat angka di timbangan menjadi nol)
  3. Timbang produk ke dalam kemasan sesuai dengan berat yang diinginkan
  4. Angka yang tercantum pada timbangan merupakan angka netto produk

untitled

Untuk produk-produk yang mengalami penyusutan setelah dikemas, seperti terjadi pada produk dengan kadar air tertentu atau produk yang mengalami fermentasi, sering dijumpai penulisan ‘berat bersih’ diganti dengan ‘berat produk saat dikemas’ untuk menginformasikan bahwa ada kemungkinan berat produk berubah setelah dikemas karena ada beberapa faktor, misalnya penambahan uap air karena pengaruh permeabilitas kemasan.